SUARA MINANG - Hari ini: Selasa, 7 April 2020

Menu

Ini Sepenggal Gumam Pilu Saat Kedatangan Jenazah di Bandara Minangkabau 

  Dibaca : 20 kali
Ini Sepenggal Gumam Pilu Saat Kedatangan Jenazah di Bandara Minangkabau 
Suasana saat menunggu kedatangan jenazah korban kerusuhan Wamena, Jayawijaya, Papua di BIM, Ketaping, Padang Pariaman, Jumat (foto:ist)

PADANG, Suara Minang – Kedatangan jenazah urang awak korban kerusuhan di Wamena disambut pilu di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang. Menyaksikan delapan peti jenazah tiba di bandara dan kemudian diantar kepada keluarganya di Pesisir Selatan.

“Bandara Internasional Minangkabau hari ini dipenuhi oleh masyarakat Pesisir Selatan yang ingin menjemput peti jenazah anggota keluarga mereka yang meninggal sebagai korban kerusuhan di Wamena (Papua),” ungkap seorang pimpinan pondok pesantren (ponpes yang datang ke BIM, di Ketaping Padang Pariaman.

Delapan korban itu masing-masing, Syafriyanto (36 tahun), Rizky (4) anak dari Syafriyanto, Jefry Antoni (23), Hendra (20), Ibnu (8), Iwan (24), Nofriyanti (40), dan Yoga Nurdi Yakop (28). Syaiful Ilyas (ASN), warga Pasar Baru menyebutkan mereka masing-masing yakni satu orang asal Batang Kapeh, dua Surantiah (Kec. Sutra), empat orang di Kambang (Kec. Lengayang) dan satu orang asal Kec. Bayang.

Peristiwa membanjirnya masyarakat yang menjempuat jenazah ke BIM, sebagai rasa simpati terhadap korban. Pimpinan ponpes itu mengemukakan rasa simpati yang mendalam atas korban kerusuhan dan menghimbau untuk mengembalikan masalah ini pada Yang Maha Kuasa, Allah swt, meskipun teramat berat terutama bagi seorang muridnya yang selamat dari kerusuhan itu, karena berada di ponpes.

“Ada delapan peti yang diberangkatkan dari Wamena hari ini.  Diantara peti ini ada peti jenazah ibunda dan adinda santri kami James Lugian Rizal. Santri yang baru mondok tiga bulan di pesantren Serambi Mekkah.  Pada usia yang sangat belia ini ananda mendapat ujian yang berat,” ucapnya.

Dia melanjutkan, “Setelah serah terima peti dari Pemprov (Sumbar) ke Pemkab Pessel, peti dinaikkan ke ambulan yang sudah menunggu di bandara.  Ambulan lansung bergerak menuju Pessel.  Sedih.. Pilu..  Tak sedikit orang yang mengalirkan air mata menyaksikan peti-peti itu diangkat oleh anggota brimob.”

“Tak lama setelah itu, pesawat yang membawa ayahanda, ananda James sampai di bandara (BIM).  Beliau tak membawa koper atau bawaan apapun.  Hanya dirinya dengan ditutup oleh kain sarung. Masih ada sisa luka bakar di wajah,  tangan dan beberapa bagian tubuh lainnya.  Manakala berbicara dengan beliau sungguh tak sanggup mengucapkan apa-apa selain ucapan bergetar, ‘sabar ya pak semua ini ujian’,” ujarnya menirukan sebagian ucapan sang ayahanda James.

Ayahanda James korban pembakaran yang selamat dari keluarga itu, masih sulit bicara. Kata pimpinan ponpes, “Bahkan pandangan beliau (Ayahanda James) pun sulit fokus mungkin karena masih trauma dengan semua kejadian yang beliau alami empat hari lalu. Kejadian yang menyebabkan beliau kehilangan isteri,  anak, harta dan mata pencarian. Hanya anak tertua yang sekarang sedang mondok yang tersisa. Airmata ku merebak… Sedih manakala bersalaman dan berpelukan dengan  keluarga besar tersebut.  ‘kami pulang umi’ ucap salah satu mereka dengan mata memerah.  ‘iya bu, hati-hati.. Sabar ibu.. Insya Allah kami akan datang ke rumah duka’ ucapku dengan mata memerah dan suara bergetar.”

Guru, pimpinan ponpes itu menyatakan, “Tidak sanggup rasanya menyaksikan semua peristiwa itu.  Ia meminta cobaan ini dihadapi dengan sabar dan mengingat Allah swt.”

Bahkan ia mengingatkan, “Ini bukan mencari salah siapa atau ingin mengutuk dan mencaci pelakunya.. Ini hanya ingin memaparkan fakta bahwa di belahan bumi yang lain ada saudara kita yang sedang ditimpa musibah dan ujian. Jangan ada kata cacian atau makian untuk siapapun karena itu hanya akan menggrogoti keikhlasan keluarga. Hanya permohonan bagi pihak berwenang dan terkait agar bisa mengambil tindakan nyata.  Ini bukan salah siapapun. Ini sudah tertulis di lauh mahfuz jauh sebelum kita dilahirkan.. Sabarlah wahai saudara… Kuatlah ananda. Tegarlah semuanya.. Jangan tanam kebencian dan dendam. Pada Allah lah segala urusan kita kembalikan. Dan, pada Allah jualah kita berserah. Karena Allah Maha Tahu…” (Ida) 

Editor:
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional