SUARA MINANG - Hari ini: Jum'at, 24 Januari 2020

Menu

Antara Mena’ati Orang Tua dan Menghadiri Shalat Berjama’ah

  Dibaca : 6 kali
Antara Mena’ati Orang Tua dan Menghadiri Shalat Berjama’ah

Tausiyah Singkat Lima Menit (TASLIM)

Oleh: Yobana Samial
(Lembaga Surau Indonesia)

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَلسَّــلاَمُ عَـلَـيْـكُمْ وَرَحْـمَـةُ اللَّهِ وَبَـرَكَاتُـهُ

Pemahaman, atas kewajiban menghadiri shalat berjama’ah bagi seseorang yang mendengar azan walaupun ia buta, cacat tetapi masih bisa berpindah (seperti merangkak), sedikit letih, sedikit sakit, sedikit sekali ada kemungkinan bahaya dan berbagai sedikit penghalang yang diaanggap merintanginya menuju mesjid, serta diyakini tidak ada kemudharatan besar. Artinya, menolerir segala penghalang itu.

Bagaimana dengan larangan seorang ibu yang kasihan kepada anaknya, karena sebab yang disebutkan di atas? Tentu, shalat berjama’ah adalah perintah Allah (melalui Rasulullah Saw) dan lebih tinggi kedudukkan dari perintah orang tua, maka kita tidak boleh menaati orang tua untuk tidak ke mesjid berjama’ah.

Sebagaimana disebutkan oleh Al Bukhari meriwayatkan dalam Bab kewajiban shalat berjama’ah, Al Hasan berkata: “Jika ibunya melarang untuk shalat Isya berjama’ah hanya karena rasa kasihan, ia tidak boleh menaati ibunya. Kemudian, ia menyebutkan hadits tentang ancaman Rasulullah Saw yang akan membakar rumah-rumah mereka yang tidak menghadiri shalat berjama’ah. Dan, di akhir hadits ia tambahkan:

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang diantara kalian mengetahui bahwa ia akan memperoleh sepotong mentega, atau dua potong daging yang bagus, pasti mereka akan mengikuti shalat isya berjama’ah.”

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat, aamiin.

(Sumber: Buku Riyadhus Shalihin & Penjelasannya, Karangan Imam An-Nawawi, hal: 671-672, Penerbit: Ummul Qura).

Editor:
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional